Make money doing the work you believe in

catatan nomor dua di esai Mang Zen ini menurutku emang penting sih. Penting karena menyentuh persoalan yang belakangan urgent terasa di banyak gerakan.

banyak kawan-kawanku yang terlibat dalam gerakan, di luar mahasiswa atau pekerja NGO, akhirnya kehabisan tenaga karena persoalan logistik-ekonomi ini. sebab sebagian besar waktu mereka habis buat menuhin kebutuhan hidup, sehingga susah buat ngejaga ritme pertemuan rutin, bahkan di in this economy kek sekarang sekadar nangkring seminggu sekali aja tuh syulit.

di sisi lain, kolektif yang cuman bertumpu sama semangat pertemanan atau tongkrongan sering kali kesulitan buat nopang/ngebantu keberlangsungan hidup anggot/kawan koletifnya yang kesusahan.

upaya ngebangun ekonomi kolektif emang selalu ada, misal lewat koperasi atau usaha bersama, tapi prakteknya sering stop ke bentuk-bentuk yang kepalang mainstream kek nyablon, cukil, atau jadi eo musik. Pilihan terakhir juga masih nyisain perdebatan antar anggota, khususnya pas bersinggungan ama sponsor rokok, yang dalam kenyataany justru jadi salah satu sumber pendanaan yang paling accessable.

catatan nomor dua juga, berkaitan sama perdebatan tentang ArtJog beberapa hari lalu, yang sebenernya dibahas juga ma mang zen di esainya soal artjog itu. Dan emang pada dasarnya, persoalannya bukan cuman soal boleh atau engga nerima sponsor tertentu, tapi gimana gerakan dan kerja kebudayaan ngebiyain dirinya sendiri.

dan seperti mang zen bilang, selama pertanyaan soal basis material ini nggak dibahas secara serius, perdebatan tentang ekonomi akan terus muter pada penilaian moral tanpa benar-benar nyentuh akar persoalannya.

karena itu, pembicaraan semacam ini emang perlu banget diomongin dan titik berangkatnya harus dimulai dari kondisi materialnya. dari situ kita baru bisalihat kontradiksi-kontradiksi yang ada, pilihan-pilihan yang tersedia, serta praktek yang mungkin cocok sama idelogi dan nilai-nilai bersama.

tapi kalo titik berangkatnya cuman moralitas, diskusinya ya cenderung bakal stop ke perkara benar ama salah aja, dan ya capek juga. selain itu, misal ngomonginnya dari segi moralitas keknya gakan sampe nemuin cara ngebangun kondisi yang ngemungkinin gerakan tetep hidup dan sustain.

Siapa yang Membayar Tan Malaka?
Jun 26
at
8:37 PM
Relevant people

Log in or sign up

Join the most interesting and insightful discussions.